Tuesday, January 29, 2013

Pemeriksaan Setelah Kala Nifas

Pemeriksaan Setelah Kala Nifas
Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian ibu kare­na sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting di­lakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan atau dokter yang menolong persalinan itu. Diantara masa­lah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang mungkin masih luka, akibat proses per­salinan. Penyembuhan yang menyebab­kan pembentukan jaringan parut, dapat menyebabkan mulut rahim kaku, dan menyulitkan persalinan yang akan datang. Selain itu ibu juga mendapatkan kesem­patan untuk membicarakan tentang me­tode KB, sebelum merencanakan keha­milan, karena pada beberapa ibu kehamil­an dapat terjadi tanpa didahului menstru­asi; pengambilan Pap smear untuk melakukan evaluasi kemungkinan kega­nasan setelah kehamilan berakhir. Bila di­jumpai perlukaan mulut rahim dapat se­gera diobati, sehingga tidak akan berlanjut menjadi sumber infeksi menahun, tempat masuknya infeksi alat kelamin atas, dapat mengalami degenerasi ganas mulut rahim. Pengobatannya dilakukan dengan membakar memakai pisau listrik (termokauter), mendinginkan/membekukan (kriosurge­ry) dan menutul dengan albutil atau nitra­sargenti.
Dengan hasil pemeriksaan yang me­muaskan berarti dapat dimulainya hu­bungan seksual, apalagi sudah dengan per­lindungan alat KB. Juga dapat dijumpai robekan perineum total yang memerlukan operasi rekonstruksi sehingga tidak mem­berikan gangguan lebih lanjut. Menghindari kehamilan dalam waktu singkat, sa­ngat penting artinya sehingga dapat me­melihara bayi dan meningkatkan kehar­monisan keluarga. Disamping itu keha­milan yang direncanakan berarti sudah slap mental, sosial, dan ekonomis untuk menyongsong kelahiran bayi berikutnya. Kehamilan yang tidak direncanakan me­nimbulkan gangguan mental, ketidak­siapan sosial dan ekonomis, sehingga men­cari peluang untuk menghilangkan ke­hamilan (menggugurkan) yang sebenarnya melakukan "pembunuhan dari hasil kasih sayang rumah tangga" Tindakan atau pikiran demikian sudah tentu berten­tangan dengan kehidupan agama masing­masing dan juga bertentangan dengan dasar negara Pancasila.

Pemberian ASI

 Pemberian ASI
Diet setelah melahirkan memerlukan nilai makanan yang cukup tinggi karena diperlukan untuk dapat memberi­kan ASI. Makanan secara medis tidak ada yang dilarang kecuali memang ada alergi makanan tertentu. Konsep empat sehat lima sempurna sangat diperlukan untuk ibu menyusui. Kini juga telah banyak di­jual kemasan susu khusus untuk ibu hamil dan menyusui.
Memberikan ASI pada bayi merupa­kan proses alami sebagai kewajiban se­orang ibu yang mengasuh anaknya. Dari sudut bayi adalah hak bayi untuk menda­patkan ASI karena banyak ASI makanan utama umur 0-4 bulan pertama kehi­dupannya. Proses alami untuk memberi­kan ASI sudah mulai saat terjadi keha­milan, karena bersamaan dengan hamil, payudara telah disiapkan setelah bayi lahir untuk segera memberikan ASI. Itulah sebabnya pada waktu melakukan pengawasan hamil, bidan atau dokter melaku­kan pemeriksaan payudara untuk menilai kesiapan memberikan ASI, terutama memberikan petunjuk tentang perawatan puting susu sehingga baik dan siap untuk menyalurkan ASI.
Puting susu yang masuk kedalam se­baiknya ditarik dengan Langan atau me­makai pompa susu, dalam keadaan yang sangat jarang diperlukan tindakan operasi untuk mengeluarkan puting sususetelah persalinan terdapat proses pembentukan dan pengeluaran ASI. Proses pembentuk­an ASI dapat dipercepat dengan segera menetekkan langsung bayi yang baru la­hir, malah sebelum pemotongan tali pusat.
Kini pemberian ASI digalakkan kembali oleh karena ternyata memberikan ASI mempunyai keuntungan dan keung­gulan jauh lebih besar dari memberikan susu formula. Keuntungan bagi bayi yang menggunakan ASI adalah tumbuh-kem­bangnya lebih sempurna, mengurangi terjadi infeksi, mengurangi diare, bertindak sebagai pencegah penyakit infeksi tertentu selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Sedangkan keuntungan bagi ibu ada­lah mempercepat proses pengembalian ra­him keukuran semula, bertindak sebagai metode KB sekitar empat bulan pertama, dan dapat menghindari keganasan payu­dara.
Dianjurkan untuk memberikan ASI selama dua tahun, sekalipun diketahui bahwa setelah 3-4 bulan saja tidak cukup diperlukan pemberian makanan tambahan seperti air buah dan buah, sehingga kebu­tuhan bayi dapat terpenuhi dengan men­dapatkan jumlah kalori cukup dan bahan lain untuk pertumbuhan dan perkem­bangannya.

Perawatan Kala Nifas

Perawatan Kala Nifas
Peristwa yang terpenting pada perode kala nifas (masa setelah melahirkan) adalah terjadinya perubahan fisik dan lak­tasi (menyusui).
Perubahan Fisik
Kembalinya Rahim ke Bentuk Asalnya

Pada waktu hamil dapat terjadi perubahan besar pada otot rahim, yang mengalami pembesaran ukuran karena pembesaran selnya (hipertrofi) clan pembesaran ukuran karena pertambahan jumlah selnya (hiper­plasia). Sehingga dapat menampung per­tumbuhan dan perkembangan janin sam­pai cukup bulan dengan berat lebih dari 2500 gram. Berat rahim menjadi sekitar 1 kg, yang semula hanya 30 gram. Setelah persalinan terjadi proses sebaliknya yang disebut "involusi" (kembalinya rahim ke ukuran semula) dimana secara berangsur otot rahim mengecil kembali, sampai se­berat semula pada minggu ke-7 (42 hari). Proses ini berlangsung cepat dengan perkiraan urutan setelah persalinan:
7 hari                    berat rahim 500 g 
14 hari                                    375 g 
hari ke-42                                50 g

Tempat implantasi plasenta segera ter­tutup epitel sebagai proses penyembuhan, sehingga tidak menjadi sumber perdarah­an dan tempat masuknya infeksi. Liang senggama yang meregang karena proses persalinan akan mengecil, sehingga semi­nggu setelah persalinan hanya dapat dilalui satu jari. Robekan pada liang senggama menyembuh dengan sendirinya. Hanya robekan yang terdapat pada mulut rahim memerlukan perhatian, karena mungkin sukar sembuh, dan dapat menjadi luka menahun (kronis) sebagai sumber infeksi atau dapat mengalami degenerasi ganas.
Pola Pengeluaran Lokia
Lokia adalah cairan yang keluar dari liang senggama pada masa nifas. Cairan ini da­pat berupa darah atau sisa lapisan rahim. Urutan pengeluaran lokia ini terjadi dimu­lai oleh keluarnya lokia rubra, berupa darah, agak gelap, mungkin ada gumpalan terjadi antara 2-5 hari; lokia sanguinolenta, cairan berupa lendir capur darah, warna merah muda terjadi antara 6-14 hari; dan lokia alba, cairan yang keluar berupa lendir putih terjadi sampai kala nifas her­akhir.
Setiap perubahan pola pengeluaran lokia bila disertai suatu perpanjangan pe­ngeluaran darah, ada kemungkinan ini keadaan abnormal, seperti terdapat sisa placenta, selaput ketuban atau luka jalan lahir yang masih berdarah.
Perubahan Kulit
Pada waktu hamil terjadi pigmentasi kulit pada beberapa tempat karena proses hor­monal. pigmentasi ini berupa kloasma gravidarum pada pipi, hiperpigmentasi kulit sekitar payudara, hiperpigmentasi kulit dinding perut (striae gravidarum). Setelah persalinan, hormonal berkurang dan hiperpigmentasi pun menghilang. Pada dinding perut akan menjadi putih mengkilap yaitu "striae albikan."
Dinding Perut
Otot dinding perut memanjang sesuai dengan besarnya pertumbuhan hamil. Se­telah persalinan dinding perut kendor, dan lebih kendor sesuai dengan jumlah ke­hamilan. Tetapi kendornya dinding perut dapat dikurangi dengan jalan melakukan latihan dinding perut melalui senam kese­garan jasmani. Secara sederhana dapat di­lakukan di rumah sebagai berikut mengangkat kaki silih berganti beberapa kali setup hari, mengangkat badan beberapa kali dalam sehari dengan kaki membujur, mengedorkan dan mengerutkan otot liang dubur. Semuanya dapat dilakukan di tem­pat tidur, setelah bangun pagi atau sore. yang penting diperhatikan adalah melatih otot lingkar liang dubur yang sebagian melingkari dinding liang senggama bagian luar. Melatihnya tidak terlalu sukar sambil duduk atau pada waktu kapan saja, karma segera setelah melahirkan ibu dapat me­ngerutkan dan mengedorkan liang dubur yang secara tidak langsung melatih otot liang senggama. Latihan ini mempercepat kembalinya liang senggama pada ukuran semula.
Buang Air Besar dan Berkemih
Pada persalinan normal masalah berkemih dan buang air besar tidak mengalami hambatan apapun. Buang air besar akan biasa setelah sehari, kecuali ibu takut pada luka episiotomi. Bila sampai tiga hari be­lum buang air besar sebaiknya dilakukan "klisma" untuk merangsang buang air be­sar sehingga tidak mengalami sembelit dan menyebabkan jahitan terbuka. Tentang berkemih, sebagian besar mengalami per­tambahan air seni, karma terjadi penge­luaran air tubuh yang berlebih, yang di­sebabkan oleh pengenceran (hemodilusi) darah pada waktu hamil. Keadaan demiki­an adalah normal bahkan bila air seni seret, perlu dilakukan evaluasi penyebabnya.
Pada masa yang akan datang, dengan kehidupan bayi yang terjamin, kematian setelah persalinan dapat ditekan, besar ke­mungkinan ibu malah meminta persalin­annya dilakukan dengan bedah seksio sesarea dengan irisan melintang dua tiga kali, dan selanjutnya dilakukan sterilisasi menurut vasektomi tuba Ma. Dengan demikian liang senggama utuh, demi keharmonisan keluarga dan kepuasan seks kedua belah pihak.
Lamanya perawatan di rumah sakit dengan konsep mobilisasi dini tidak terla­lu lama sekitar 2-3 hari dan dibolehkan pulang. Selanjutnya diminta datang se­minggu kemudian untuk pemeriksaan luka jahitan episiotomi. Dengan rooming in ibu langsung medapatkan pendidikan merawat bayi sesuai dengan cara moderen dengan konsep menjadi kebersihan. Seka­rang banyak sekali alas-alas perawatan bayi yang dijual, sehingga bayi dapat terjaga. Popok dan pakaian bayi bila diperhitung­kan terasa lebih murah membeh daripada membuat sendiri, dan hasilnya dengan berbagai variasi yang inclah. Demikian juga alas dan bahan untuk mempertahan­kan suasana kering pada sekitar lipatan paha dan bokong tersedia dengan berbagai jenis sesuai kulit bayi.

Komplikasi Bayi pada Persalinan Normal

Komplikasi Bayi pada Persalinan Normal
Pada persalinan normal tidak banyak komplikasi bayi yang dijumpai karena ke­tiga komponen persalinan yaitu jalan lahir (passage), janin dan placenta (passenger), dan kekuatan his dan mengejan dapat bekerja sama dengan baik sehingga persalinan berlangsung dengan tatanan waktu yang tepat.
Ada beberapa hal yang menyebabkan kepala bayi cukup lama tertahan di dasar panggul yaitu terjadinya lilitan tali pusat, koordinasi kekuatan tidak sempurna, ter­dapat kesempitan panggul ringan. Keti­ganya dapat menyebabkan gangguan sir­kulasi darah kepala bayi sehingga terjadi edema (bengkak) kepala yang disebut ka­put suksedanium dan perdarahan di bawah kulit kepala bayi. Keadaan ini tidak mem­bahayakan, perdarahan atau kaput sukse­danium tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya.
Perawatan Setelah Me "Rooming In"
Konsep perawatan pasca-melahirkan yang dikembangkan pada persalinan normal sebenarnya mengikuti polo tradi­sional yang dikemas secara modern yaitu mobilisasi dini, rooming in, pemberian ASI. Polo im melalui penelitian terbuki mempunyai keuntungan bagi ibu maupun bayinya. Dalam pengawasan setelah mela­hirkan, dokter yang merawat ibu akan datang setiap hari atau setiap saat mem­berikan petunjuk perawatan.
Konsep Cara Perawatan Pasca-Melahirkan
Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini atau aktivitas segera. Di­lakukan segera setelah beristirahat bebera­pa jam dengan beranjak dari tempat tidur ibu (pada persalinan normal). Mobilisasi dini dapat mengurangi bendungan lokia dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin dalam ke keadaan semula.
Rooming In
Konsep ini sudah dilaksanakan di pede­saan. Terbukti bahwa konsep ini mengun­tungkan karena perawatan langsung oleh ibunya, dapat memberikan ASI setiap saat, bayi tidak terlalu banyak kehilangan panas badan, meningkatkan perkembangan jiwa bayi karena merasa aman dan damai. La­tihan perawatan bayi secara moderen da­pat diajarkan pada ibu yang barn pertama mempunyai anak. Konsep rooming in ada­lah konsep lama dengan kemasan mo­deren. 
Pemberian ASI

 Pemberian ASI selama mungkin di daerah pedesaan sudah biasa dilaksanakan masya­rakat, tanpa mengetahui bahwa pemberian ASI itu mempunyai keuntungan yang sa­ngat penting bagi bayi yaitu bahwa ASI siap setiap saat untuk diberikan, mudah dicerna dan sesuai kebutuhan dan pertum­buhan bayi, mempunyai antibodi khusus (tak ada pada susu formula), sampai 4 bulan pemberian ASI merupakan metode keluarga berencana (KB) yang handal. Be­berapa tahun yang lalu masyarakat tergiur oleh propaganda susu formula yang diang­gap mampu menggantikan ASI.

Dalam penelitian lebih lanjut ternyata banyak kerugian mental dan fisik bayi dengan susu formula, sehingga pemerintah beru­paya untuk mengembalikan fungsi ibu un­tuk memberikan ASI. Kalau dibandingkan susu formula, jauh dari kebutuhan bayi yang sedang tumbuh dan berkembang, apalagi susu formula tidak mempunyai bahan-bahan aktif seperti kasein dan antibodi tertentu. Itulah sebabnya pemberian ASI sangat digalakkan, sehingga tumbuh dan kembang bayi dapat lebih sempurna sebagai titik awal sumber daya manusia yang berkualitas.

Pimpinan Persalinan

Pimpinan Persalinan
Pada waktu melaksanakan pengawasan kehamilan, sudah dapat dijalin hubungan antara ibu hamil dengan profe­sional yang akan menolong persalinan. Petugas kesehatan memberi petunjuk ka­pan harus datang ke rumah sakit, sehingga lebih balk menunggu di rumah sakit, dibandingkan terlambat yang dapat mem­bahayakan ibu dan janinnya. Dengan cara demikian diharapkan hubungan yang har­monis antara ibu dan petugas kesehatan dapat mengurangi rasa takut dan sakit saat bersalin.
Penataan kamar bersalin demikian rupa sehingga memberikan suasana aman, damai tetapi meyakinkan segala persiapan lengkap, untuk dapat memberikan per­tolongan yang tepat.
Pada waktu di kamar bersalin sebaik­nya ditunggu seorang bidan atau pemban­tu bidan yang dapat melakukan observasi. Diharapkan dapat menjaga perasaan ibu yang sedang bersalin, sehingga meningkat­kan kepercayaan dan rasa aman. Pada fasilitas yang lebih moderen, kamar bersalin dibuat seperti,di rumah keluarga dima­na suami diperbolehkan masuk dan menunggu. Setelah sampai saat persalinan ibu hamil dipindahkan ke kamar bersalin untuk pertolongan selanjutnya. Bila pe­mindahan menunggu sampai ibu dalam keadaan sakit perut, akan memerlukan tenaga dan dilakukan dengan susah payah sehingga kurang praktis.
Urutan pimpinan persalinan adalah seperti di bawah ini.
Kala Pertama (Pembukaan Pintu Man Lahir)
Akan dilakukan pemeriksaan tentang kedudukan janin dalam rahim. Dilakukan pemeriksaan dalam dengan terbatas dan akan dijelaskan berapa pembukaannya dan kapan perkiraan persalinan berlang­sung. Ibu akan dipertahankan kekuatan moral dan emosinya karena persalinan masih jauh sehingga dapat mengumpul­kan kekuatan.
Kala Kedua (Kala Pengusiran)
Petugas kesehatan mempersiapkan diri dengan memakai sarung Langan. Memper­hatikan kerja sama dengan ibu bersalin sehingga kekuatannya semaksimal mung­kin tuntuk mendorong janin keluar. Pada saat ini ibu bersalinakan diingatkan kembali cara merangkul paha, melengkungkan badan sehingga sekat rongga badan berfungsi untuk ikut serta mendo­rong janin keluar. Proses kelahiran kepala akan segera terjadi, didahului oleh pembu­kaan sekitar 5-6 cm dilakukan episiotomi, untuk memperlebar jalan lahir lunak dan mengendalikan robekan. Minta izin akan melakukan episiotomi, pada saat puncak his sehingga rasa sakit tidak menonjol. Kepala bayi akan mengalami pengeluaran dan ekstensi. Untuk mengendalikan pe­ngeluaran sehingga tidak mendadak. Le­ngan kiri menahan kepala janin sedang­kan Langan kanan menahan daerah ke­maluan (perineum), sehingga robekan perineum dapat dikendalikan. Setelah ke­pala lahir berikan kesempatan melakukan putar paksi luar untuk menyesuaikan diri dengan punggung. Persalinan badan bayi dilakukan dengan memegang kepala demikian rupa menarik curam bawah un­tuk melahirkan bahu depan dan menarik curam atas untuk melahirkan bahu bela­kang. Setelah kedua bahu lahi, sisa bagan bayi dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiak memakai jari telunjuk. Setelah bayi lahir, mulut, hidung, dan jalan napas dibersihkan dari lendir yang berarti mem­berikan rangsangan untuk menangis. Dengan menangis nyaring, berarti jalan napas bersih. Tali pusat dipotong sekitar 10 cm dan bayi diberikan pada ibu lalu dibersihkan.
Kala Ketiga (Kala Uri)
Setelah bayi lahir rahim perlu waktu isti­rahat untuk selanjutnya berkontraksi lagi untuk mengeluarkan plasenta. Dengan terjadinya pemendekatan otot rahim sudah merupakan permulaan pelepasan plasenta, karena plasenta tidak dapat mengikuti pemendekan dilapisan longgar Nitabusch. Dengan kontraksi ringan ter­dapar pelepasan plasenta yang disertai de­ngan perdarahan sekitar 2500-300 cc. Untuk membantu persalinan plasenta di­lakukan tekanan ringan diatas puncak ra­him dengan cara Crede. plasenta diperha­tikan kelengkapannya secara cermat, sehingga tidak menyebabkan gangguan kontraksi rahim atau terjadi perdarahan sekunder.
Kala Keempat (2 jam Setelah Melahirkan)
Setelah plasenta lahir kontraksi otot rahim keras sehingga pembuluh darah terjepit untuk menghentikan perdarahan. Kesem­patan beristirahat untuk memulihkan te­naga, Setelah kerja keras dalam persalinan yang melelahkan. Dilakukan observasi dan pengukuran cermat pada tekanan darah, Wadi, pernapasan, kontraksi otot rahim, perdarahan sering terjadi selama 2 jam pertama. Dilakukan penjahitan kembali luka episiotomi. penjahitan dapat dilakukan dengan atau tanpa anestesi umum, sebagian besar dilakukan dengan anestesi lokal. Setelah dua jam bila keadaan baik, ibu dipindahkan ke ruangan bersama bayinya.

Kekuatan His


Kekuatan His
Susunan otot rahim demikian rupa se­hingga terdapat distribusi yang berpusat di fundus uteri (puncak rahim) dan makin kearah mulut rahim makin berkurang di­ganti jaringan ikat yang lebih dominan. Susunan demikian menguntungkan kare­na mulut rahim dalam proses persalinan bersifat pasif Pada waktu hamil sering dirasakan kontraksi ringan beberapa kali sehari, tetapi tidak terlalu sakit. Kontraksi ini makin tua kehamilan makin sering terjadi. Inilah selanjutnya merupakan kontraksi otot rahim untuk proses persa­linan sehingga janin dapat didorong secara pasif menuju pintu (mulut rahim).
His.Yaitu kontraksi otot rahim pada persalinan. His palsu merupakan pening­katan kekuatan his saat hamil yang disebut kontraksi Braxton Hicks tanpa terasa sakit dan tanpa menimbulkan perubahan, Berta berlangsung singkat di seluruh rahim. His ini akan menghilang bila dibawa istirahat, dan terjadi sebelum kehamilan mencapai cukup bulan. His persalinan mempunyai tanda dominan di daerah fundus rahim, terasa sakit intervalnya makin pendek dan kekuatannya makin meningkat, juga me­nimbulkan perubahan dengan mendorong janin menuju jalan lahir, menimbulkan pembukaan mulut rahim, memberikan tanda persalinan (pengeluaran lendir, pengeluaran lendir bercampur darah, pengeluaran air [selaput janin pecah]). Jadi dengan terdapatnya his persalinan dan disertai pembawa tanda sebaiknya ibu hamil segera datang ke rumah sakit se­hingga dapat diobservasi perjalanan per­salinannya. Observasi jalannya persalinan sangat penting artinya, sehingga bila di­jumpai keadaan yang abnormal segera da­pat dilakukan tindakan untuk menolong ibu dan janin.
Jalan Lahir
Otot rahim tersusun oleh tiga lapis sum­bernya dari kedua tanduk rahim yairu longitudinal (memanjang), melingkar, dan miring. Susunan demikian menguntung­kan karena segera setelah persalinan, akan dapat menutup pembuluh darah dan menghindari terjadinya perdarahan dari tempat implantasi placenta (ari-ari). Di­samping kontraksi yang dominan di bagi­an fundus (bagian atas rahim) pada kala pertama persalinan menyebabkan terjadi pembukaan secara pasif mulut rahim, mendorong bagian janin terendah menuju jalan lahir sehingga ikut aktif dalam mem­buka mulut rahim, gambaran skematis tentang otot rahim dan proses pembukaan mulut rahim dapat lihat pada gambar.
Kedudukan janin dalam rahim sekitar 97% adalah letak kepala sehingga persa­linan berlangsung secara spontan (dengan kekuatan sendiri) cukup bulan dan hidup. Bila dijumpai kejadian persalinan demiki­an berarti keadaan panggul dan janin yang normal dan kerjasama antara tiga kekuat­an his dan mengejan, passenger (janin dan ari-ari), dan passage (jalan lahir tulang dan lunak) telah menunjukkan keserasian.
Persalinan pada letak kepala yang pa­ling utama adalah persalinan kepala, kare­na merupakan bagian terbesar, keras dan mempunyai kemampuan mengecil (mou­lase) terbatas. Persalinan badan janin se­bagian besar berlangsung dengan baik tanpa kesulitan karena bahu janin dapat diperkecil tanpa terjadi kerusakan yang berarti.
Kekuatan Mengejan
Pada kala kedua (pengeluaran bayi) terjadi rangsangan terbadap fleksus (kumpulan saraf) Frankenhauser di sekitar mulut ra­him sehingga terjadi refleks mengejan, yang merupakan tambahan kekuatan un­tuk melahirkan janin (bayi). Bila his tidak dapat dikendalikan oleh ibu maka kekuat­an mengejan dapat dikendalikan sehingga hasil kedua kekuatan mempercepat proses persalinan. Pada persalinan pertama, ke­dua kekuatan sulit dikendalikan dan me­merlukan pimpinan persalinan oleh dok­ter atau bidan sehingga dapat dikoordinasikan dengan baik. Sekali pun refleks mengejan terjadi spontan, tetapi sering kekuatan itu malah tertahan di bagian leher, sehingga leher ibu tegang, wajah merah bengkak bahkan terjadi perdarahan pada mata.
Salah satu tanda penting pada keha­milan pertama adalah masuknya kepala janin ke pintu atas panggul, pada minggu ke-36 disebabkan oleh kekuatan kontraksi Braxton Hicks, tekanan dari diafragma (sekat rongga badan), tegangan ligamen­tum rahim dan dinding perut, serta gaya berat kepala janin. Dengan masuknya ke­pala janin sudah dapat diperkirakan kerja­sama tiga kekuatan akan berlangsung aman, asalkan mampu melakukan pim­pinan persalinan.
Gerakan utama kepala janin dan per­salinan tubuh janin secara berurutan se­perti di bawah ini.
Turun dan masuknya kepala janin di pintu atas panggul. Pada ibu yang barn pertama hamil (primigravida) kepala sudah masuk ke pintu atas panggul pada minggu ke-36. Sedangkan pada ibu yang hamil lebih dari satu (multigravida) bersa­maan dengan mulainya persalinan (dapat juga masuk saat kehamilan cukup bulan).
Kepala Janin Mengalami Fleksi
Kepala janin masuk pintu atas panggul dalam keadaan menekuk (fleksi) ringan. Kekuatan his dan bentuk jalan lahir menyebabkan terjadinya fleksi ini yaitu menempelnya dagu di dada janin.
Putar Paksi Dalam
Putar paksi dalam adalah usaha menye­suaikan kepala janin dengan jalan lahir sehingga titik putar (hipomoklion) berada tepat di bawah tulang kemaluan (simfisis pubis). Putar paksi dalam terjadi karena faktor kepala janin dan faktor jalan lahir.
Teriadi Ekstensi dan Ekspulsi
Dengan kekuatan his dan refleks menge­jan, terjadi ekstensi (defleksi) kepala janin sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi mulut dan dagu. Selanjutnya diikuti oleh persalinan belakang kepala sehingga seluruh kepala janin dapat lahir.
Putar Paksi Luar
Sementara kepala bayi lahir, bahu bayi masuk pintu atas panggul mengikuti jalan lahir. Kepala bayi yang telah berada diluar melakukan putar paksi luar yaitu menye­suaikan diri dengan punggung bayi, yang mulai terjadi dengan bahu depan (dekat tulang kemaluan ibu) sebagai titik putar­nya. Persalinan bahu dan badan bayi dibantu dengan menarik kepala curam ke bawah untuk melahirkan bahu depan, curam keatas untuk melahirkan bahu bela­kang, setelah kedua bahu lahir ketiak bayi dikait dengan telunjuk untuk melahirkan sisa badannya. Dengan demikian seluruh bayi lahir. Setelah mulut, hidung, dan jalan napas dibersihkan dan bayi menangis tali pusat dipotong, diikat dan bayi di­bungkus lalu diletakkan pada dada ibu, kemudian dibersihkan.
His Kala Uri (plasenta)
Setelah bayi lahir otor rahim memerlukan istirahat sekitar 10-15 menit dan his tim­bul untuk melahirkan plasenta (uri). Per­salinan plasenta pun perlu dibantu, se­hingga dapat diketahui kelengkapannya. Dengan lahirnya janin (bayi) terjadi pengerutan otot rahim, artinya setelah kontraksi otot rahim tidak kembali pada panjang semula, tetapi memendek, dan menyebabkan plasenta tidak dapat mengikuti perpendekan dan melepaskan diri. Plasenta yang telah lepas diperiksa kelengkapannya, sehingga tidak terdapat sisa plasenta yang menyebabkan perdarah­an berkepanjangan/berulang, infeksi sete­lah persalinan, atau mengalami degenerasi gangs atau polip. Bila diduga terdapat sisa plasenta dilakukan eksplorasi atau dilaku­kan kuretase.
His Kala Empat
Setelah plasenta lahir otot rahim terns berkontraksi (his) untuk dapat menutup pembuluh darah dari bekas inplancasi plasenta. Dengan persalinan terdapat penurunan hormon kehamilan yang menyebabkan pengecilan otot rahim se­hingga kembali pada besar dan bentuk semula setelah 42 hari (6 minggu atau satu bulan tujuh hari). Bila persalinan berjalan normal, diharapkan dapat melakukan mo­bilisasi segera sehingga peredaran darah kembali dan sisa darah yang terdapat dalam rahim dapat dikeluarkan. Mobilisa­si dini menguntungkan dan dapat mengurangi kemungkinan infeksi setelah persalinan.
Gambaran persalinan secara kilnis penting diketahui masyarakat sehingga ibu datang pada waktunya, untuk persiap, pertolongan. Bagi masyarakat awam, bila terjadi dan terdapat salah atau gejala tersebut sebaiknya datang ke rumah sakit, un­tuk mendapatkan pertolongan.

Proses Persalinan Normal

Proses Persalinan Normal 

Selama kehamilan berlangsung dapat terjadi kontraksi ringan pada seluruh rahim, tanpa rasa sakit dan tanpa koordinasi yang disebut "Braxton Hicks. " Kontraksi ini lebih lanjut akan menjadi kekuaran untuk persalinan. Bagaimana persalinan dapat berlangsung? Banyak teori yang dikemukakan untuk menerang kan bagaimana proses persalinan dapat terjadi.

Persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan, dan pela­yanan dengan fasilitas yang memadai. Per­salinan pada manusia dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit dapat terjadi pada setiap tahap tersebut. Persalinan dapat terjadi karena adanya kekuatan yang mendorong janin.

Kala I Pembukaan 0 sampai lengkap ( waktu antara 10-14 jam) 
Penyulit yang mungkin terjadi : Pembukaan lengkap, ketuban pecah sebagai akhir dari kala pertama, his kuat, mengancam rahim robek/pecah, Gangguan janin dalam rahim keadaan gawat janin, Selaput janin pecah pada pembukaan kecil, Polaps (pengeluaran alat tubuh) bagian kecil, Gangguan pembukaan pintu jalan lahir.

Kala II Persalinan janin ( berlangsung 1-2 jam)   
Penyulit yang mungkin terjadi : Pengawasan lebih ketat, Keadaan gawat ibu dan janin dapat terjadi setiap waktu, Gangguan kekuatan untuk persalinan janin, Gangguan putar paksi kepala, Ancaman robekan rahim.

Kala III Persalinan plasenta (ari-ari) ( berlangsung 10-15 menit)   
Penyulit yang mungkin terjadi : Kontraksi otot rahim kuat, Gangguan pelepasan plasenta (retensi plasenta), Ancaman pendarahan.

Kala IV Observasi 2 jam pasca-melahirkan diruangan sendiri
Penyulit yang mungkin terjadi : Bahaya pendarahan mengancam pada 2 jam pertama, Kontraksi otot rahim dapat lemah dan menimbulkan pendarahan.

Persiapan Menghadapi Persalinan

Persiapan Menghadapi Persalinan
Dalam menghadapi persalinan seorang calon ibu dapat mempercayakan di­rinya pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, bahkan seorang dukun untuk pemeriksaan secara teratur, melakukan pengawasan hamil se­kitar 12-14 kali sampai pada persalinan. Pertemuan konsultasi dan menyampaikan keluhan, menciptakan hubungan saling mengenal antara calon ibu dengan bidan atau dokter yang akan menolongnya. Ke­datangannya sudah mencerminkan adanya "informed consent" artinya telah menerima informasi dan dapat menyetujui bahwa bidan atau dokter itulah yang akan me­nolong persalinannya (tentang informed concern akan dibahas kemudian).

Kepada keluarga yang sering melaku­kan konsultasi telah diberitahukan perkiraan tanggal persalinan, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri, karena sewak­tu-waktu akan datang sakit perut disertai dengan tanda seperti lendir bercampur darah. Keluarga telah melakukan persiap­an menyambut persalinan bahkan kadang sudah mempunyai Hama untuk anak laki atau anak perempuannya. Baju untuk per­salinan ibu telah disiapkan demikian juga untuk anaknya.

Perkembangan kejiwaan hamil dan persalinan dapat mengalami beberapa perubahan. Pada kehamilan yang diharap­kan mendorong kegairahan keluarga dan mengharapkan tidak terjadi apapun sela­ma hamil. Kekuatiran akan terjadi gugur kandung dapat menghantui keluarga yang sangat mengharapkan hadirnya buah cinta dalam rumah tangga. Sebagai akibat kekuatiran tersebut dapat mengganggu ke­hidupan seks sehingga libido-nya berku­rang. Dalam keadaan tertentu dengan ri­wayat kehamilan yang buruk bahkan dok­ter akan melarang hubungan seks. Menje­lang persalinan sebagian besar merasa takut menghadapi persalinannya apalagi bagi yang untuk pertama kali. Disinilah pembinaan hubungan antara penolong dan ibu saling mendukung dengan penuh kesabaran sehingga persalinan dapat ber­jalan dengan lancar. Kala I, perlu dijelaskan dengan baik bahwa persalinan akan berjalan aman oleh karena kepala masuk pintu atas panggul, bahkan pembukaan telah maju dengan baik. Keberadaan bidan atau dokter sangat penting untuk memberikan semangat sehingga persalinan dapat berjalan baik. Kehadiran keluarga terutama suami, asalkan disetujui istri dan fasilitas memungkinkan dapat di­mungkinkan pada kala I dan II. Rasa sakit karena kekuatan his tidak dapat dihindari dan beri semangat agar dapat menahannya sampai persalinan berlangsung. Untuk menambah kepercayaan ibu, sebaiknya se­tiap kemajuan dapat diterangkan sehingga semangat dan kemampuannya untuk mengkoordinasikan kekuatan persalinan dapat dilakukan.

Pemindahan penderita ke ruangan di­mana anaknya telah menunggu, masih merupakan tanggung jawab bidan atau dokter paling sedikit selama 2 jam perta­ma. Perawatan penderita selama tiga hari dan selanjutnya dapat pulang.

Histeroskopi dan Kolposkopi

Histeroskopi
Histeroskopi adalah pemeriksaan yang di­lakukan dengan alat optik ke dalam ruangan rahim untuk melihat berbagai kelainan atau penyakit Bersamaam de­ngan pemeriksaan tersebut dapat dilaku­kan:

    Biopsi, untuk mengambil jaringan se­hingga dapat dilakukan pemeriksaan dengan tepat.
    Pengambilan cairan, untuk pemerik­saan sitologi atau biakan serta ke­mungkinan pengecatan bakteria.
    Dengan histeroskopi dapat pula di­lakukan operasi untuk melepaskan perlekatan dalam ruangan rahim. Dapat dilakukan pengambilan AKDR (alai kontrasepsi dalam rahim) dengan tepat.

Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan serviks yang dikembangkan oleh Reid, untuk melakukan evaluasi kemungkinan keganas­an serviks, dengan alat optik yang mempu­nyai pembesaran rendah sekitar 40-50 kali.

Dengan pemeriksaan kolposkop ini dapat pula dilakukan pengambilan biopsi pada perbatasan epitel kubus dan epitel bertatah dengan tepat, guna pemeriksaan selnya. Kolposkop alat bantu untuk mene­gakkan kemungkinan kegananasan serviks (mulut rahim) yang dapat dilakukan de­ngan massal, artinya banyak orang dalam waktu berturut-turut bersama-sama.

Pemeriksaan kesejahteraan janin dalam rahim dan pemeriksaan kelainan dan pe­nyakit kandunganmempergunakan alat canggih, kini sudah banyak dilakukan di Indonesia, untuk mengikuti perkembang­an ilmu pengetahuan dan teknologi ke­dokteran serta seni.

Pemeriksaan rontgen masih cukup re­levan, tetapi pemeriksaan yang lebih cang­gih mempergunakan resonansi magnetik yang lebih canggih dan lebih tepat, sudah banyak dilakukan khususnya di rumah sakit besar. Tujuan memperkenalkan pe­meriksaan dengan alat canggih ini agar masyarakat mengetahui sehingga tidak akan ragu-ragu bila disarankan untuk melakukan pemeriksaan sehingga hasil penetapan kelainan dan penyakitnya lebih mantap dan jelas.

Ultrasonografi kini bukan alat canggih lagi, karena secara rutin sudah dimiliki dan dilakukan pemeriksaannya oleh ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Dalam beberapa hal malah masyarakat meminta dilakukan pemeriksaan ultra­sonografi. Perlu ditekankan bahwa, pemeriksaan sebelum melangsungkan perkawinan, sudah biasa dilakukan, dika­langan sipil mulai memperhatikan hal-hal tersebut mengingat masalah hubungan seks pranikah dengan partner yang diajak kawin atau dengan wanita lainnya sudah umum terjadi.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi berbagai hal analisa psikologis, pemerik­saan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Semua bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan sebelum kawin dan bila mungkin melakukan pengobatan sehingga keluarga dapat menurunkan generasi penerus yang diinginkan. Seharusnya pe­meriksaan sebelum perkawinan secara ru­tin dapat dilakukan mengingat kini tidak terlalu sulit mencari tempat untuk ICU. Dengan dianjurkan untuk mendapatkan vaksin tetanus toksoid (justru kini untuk mencari Surat nikah), atau diharuskan untuk mendapatkan suntikan vaksin tersebut, sehingga kehamilannya terlindung dari kemungkinan infeksi tetanus dan ter­utama janin, menerima kekebalan ibunya terhadap infeksi tetanus yang mematikan itu. Dianjurkan untuk datang kepada dok­ter untuk memeriksakan diri sebelum perkawinan.

Laparoskopi

Laparoskopi
Laparoskopi adalah tindakan pemeriksaan dengan alas optik, yang dimasukkan ke dalam ruangan abdomen (perut). Kini perkembangan pemeriksaan dengan alat laparoskop sudah makin maju sehingga dapat dilakukan tindakan operasi dengan berbagai keuntungannya. Keuntungannya dengan operasi laparoskop adalah rawat inap di rumah sakit lebih singkat, dengan kesembuhan luka operasi yang baik.

Di Indonesia laparoskop untuk tin­dakan membantu diagnosa (ketetapan) yang masih sulit dilakukan dari luar arti­nya dengan pemeriksaan biasa. Kesulitan tersebut dapat dibantu dengan pemerik­saan laparoskop, sehingga dapat terlibat kelainan atau penyakit yang berada di rahim dan jaringan sekitarnya.

Sedangkan laparoskop untuk tujuan operasi, dilakukan dengan dua sampai empat fungsi, sehingga tindakan operasi da­pat dilaksanakan. Operasi laparoskop di­antaranya:
    Pengangkatan kehamilan diluar kan­dungan.
    Melepaskan perlekatan pada pasangan mandul dari pihak istri.
    Pengambilan jaringan untuk memasti­kan kelainan dan penyakit yang dideri­ta pada alat kewanitaannya.
    Pengangkatan tumor indung telur dan rahim.

Pemeriksaan Kelainan dan Penyakit Kandungan dengan Alat Canggih

Pemeriksaan Kelainan dan Penyakit Kandungan dengan Alat Canggih
Untuk menetapkan kelainan dan pe­nyakit kandungan sebagian memper­gunakan alat canggih. Tujuan penjabaran ini untuk memberikan kepada ibu-ibu gambaran betapa pentingnya pemeriksaan itu, bila dengan metode pemeriksaan biasa belum dapat ditentukan adanya kelainan atau penyakitnya. Diantara pemeriksaan dengan mempergunakan alat canggih ada­lah sebagai berikut.

Pemeriksaan Ultrasonografi
Ternyata bahwa ultrasonografi sangat mem­bantu pemeriksaan untuk dapat menegak­kan kelainan atau penyakit kandungan.

Tumor Kandungan
Tumor kandungan yang terdapat di dalam rahim, dapat diyakinkan dengan mempergunakan ultrasonografi, untuk membeda­kan:
    Apakah mengandung cairan atau ki­stous.
    Besar tumor.
    Letak tumor.
    Hubungan tumor dengan organ lain.

Tumor Indung Telur
Indung telur mempunyai berbagai kemu­ngkinan untuk tumbuh diantaranya men­jadi bentuk:
    Padat
    Bentuk kista (kantung yang berisi cair­an).
    Kista yang unilokuler (satu kantung berisi cairan).
    Multi lokuler (artinya terdiri dari be­berapa kantung cairan dengan sep­tum).
    Kemungkinan keganasan dengan memperhatikan aliran darahnya.
Terdapat villi yang mencerminkan mungkin keganasan dapat ditetapkan dan dibedakan dengan ultrasonografi.

Kehamilan Diluar Kandungan
Kehamilan normal terdapat dalam ruang rahim, yang dapat mengikuti tumbuh­ kembang janin sampai genap bulan. Ke­hamilan diluar kandungan, yang sebagian besar pada tuba falopii tidak akan mu­ngkin tumbuh-kembang dengan baik dan akhirnya akan pecah dan terjadi perdarah­an dalam ruang abdomen (perut) dengan gejala sakit perut mendapat. Sakit perut mendadak yang timbul karena perdarahan ini, memerlukan tindakan operasi segera, untuk menyelamatkan jiwa ibu.

Dengan pemeriksaan ultrasonografi, besar kemungkinan hamil diluar kandungan dapat ditegakkan sehingga ope­rasinya dapat direncanakan, sehingga ke­selamatan ibu lebih terjamin.