Tuesday, January 29, 2013

Kekuatan His


Kekuatan His
Susunan otot rahim demikian rupa se­hingga terdapat distribusi yang berpusat di fundus uteri (puncak rahim) dan makin kearah mulut rahim makin berkurang di­ganti jaringan ikat yang lebih dominan. Susunan demikian menguntungkan kare­na mulut rahim dalam proses persalinan bersifat pasif Pada waktu hamil sering dirasakan kontraksi ringan beberapa kali sehari, tetapi tidak terlalu sakit. Kontraksi ini makin tua kehamilan makin sering terjadi. Inilah selanjutnya merupakan kontraksi otot rahim untuk proses persa­linan sehingga janin dapat didorong secara pasif menuju pintu (mulut rahim).
His.Yaitu kontraksi otot rahim pada persalinan. His palsu merupakan pening­katan kekuatan his saat hamil yang disebut kontraksi Braxton Hicks tanpa terasa sakit dan tanpa menimbulkan perubahan, Berta berlangsung singkat di seluruh rahim. His ini akan menghilang bila dibawa istirahat, dan terjadi sebelum kehamilan mencapai cukup bulan. His persalinan mempunyai tanda dominan di daerah fundus rahim, terasa sakit intervalnya makin pendek dan kekuatannya makin meningkat, juga me­nimbulkan perubahan dengan mendorong janin menuju jalan lahir, menimbulkan pembukaan mulut rahim, memberikan tanda persalinan (pengeluaran lendir, pengeluaran lendir bercampur darah, pengeluaran air [selaput janin pecah]). Jadi dengan terdapatnya his persalinan dan disertai pembawa tanda sebaiknya ibu hamil segera datang ke rumah sakit se­hingga dapat diobservasi perjalanan per­salinannya. Observasi jalannya persalinan sangat penting artinya, sehingga bila di­jumpai keadaan yang abnormal segera da­pat dilakukan tindakan untuk menolong ibu dan janin.
Jalan Lahir
Otot rahim tersusun oleh tiga lapis sum­bernya dari kedua tanduk rahim yairu longitudinal (memanjang), melingkar, dan miring. Susunan demikian menguntung­kan karena segera setelah persalinan, akan dapat menutup pembuluh darah dan menghindari terjadinya perdarahan dari tempat implantasi placenta (ari-ari). Di­samping kontraksi yang dominan di bagi­an fundus (bagian atas rahim) pada kala pertama persalinan menyebabkan terjadi pembukaan secara pasif mulut rahim, mendorong bagian janin terendah menuju jalan lahir sehingga ikut aktif dalam mem­buka mulut rahim, gambaran skematis tentang otot rahim dan proses pembukaan mulut rahim dapat lihat pada gambar.
Kedudukan janin dalam rahim sekitar 97% adalah letak kepala sehingga persa­linan berlangsung secara spontan (dengan kekuatan sendiri) cukup bulan dan hidup. Bila dijumpai kejadian persalinan demiki­an berarti keadaan panggul dan janin yang normal dan kerjasama antara tiga kekuat­an his dan mengejan, passenger (janin dan ari-ari), dan passage (jalan lahir tulang dan lunak) telah menunjukkan keserasian.
Persalinan pada letak kepala yang pa­ling utama adalah persalinan kepala, kare­na merupakan bagian terbesar, keras dan mempunyai kemampuan mengecil (mou­lase) terbatas. Persalinan badan janin se­bagian besar berlangsung dengan baik tanpa kesulitan karena bahu janin dapat diperkecil tanpa terjadi kerusakan yang berarti.
Kekuatan Mengejan
Pada kala kedua (pengeluaran bayi) terjadi rangsangan terbadap fleksus (kumpulan saraf) Frankenhauser di sekitar mulut ra­him sehingga terjadi refleks mengejan, yang merupakan tambahan kekuatan un­tuk melahirkan janin (bayi). Bila his tidak dapat dikendalikan oleh ibu maka kekuat­an mengejan dapat dikendalikan sehingga hasil kedua kekuatan mempercepat proses persalinan. Pada persalinan pertama, ke­dua kekuatan sulit dikendalikan dan me­merlukan pimpinan persalinan oleh dok­ter atau bidan sehingga dapat dikoordinasikan dengan baik. Sekali pun refleks mengejan terjadi spontan, tetapi sering kekuatan itu malah tertahan di bagian leher, sehingga leher ibu tegang, wajah merah bengkak bahkan terjadi perdarahan pada mata.
Salah satu tanda penting pada keha­milan pertama adalah masuknya kepala janin ke pintu atas panggul, pada minggu ke-36 disebabkan oleh kekuatan kontraksi Braxton Hicks, tekanan dari diafragma (sekat rongga badan), tegangan ligamen­tum rahim dan dinding perut, serta gaya berat kepala janin. Dengan masuknya ke­pala janin sudah dapat diperkirakan kerja­sama tiga kekuatan akan berlangsung aman, asalkan mampu melakukan pim­pinan persalinan.
Gerakan utama kepala janin dan per­salinan tubuh janin secara berurutan se­perti di bawah ini.
Turun dan masuknya kepala janin di pintu atas panggul. Pada ibu yang barn pertama hamil (primigravida) kepala sudah masuk ke pintu atas panggul pada minggu ke-36. Sedangkan pada ibu yang hamil lebih dari satu (multigravida) bersa­maan dengan mulainya persalinan (dapat juga masuk saat kehamilan cukup bulan).
Kepala Janin Mengalami Fleksi
Kepala janin masuk pintu atas panggul dalam keadaan menekuk (fleksi) ringan. Kekuatan his dan bentuk jalan lahir menyebabkan terjadinya fleksi ini yaitu menempelnya dagu di dada janin.
Putar Paksi Dalam
Putar paksi dalam adalah usaha menye­suaikan kepala janin dengan jalan lahir sehingga titik putar (hipomoklion) berada tepat di bawah tulang kemaluan (simfisis pubis). Putar paksi dalam terjadi karena faktor kepala janin dan faktor jalan lahir.
Teriadi Ekstensi dan Ekspulsi
Dengan kekuatan his dan refleks menge­jan, terjadi ekstensi (defleksi) kepala janin sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi mulut dan dagu. Selanjutnya diikuti oleh persalinan belakang kepala sehingga seluruh kepala janin dapat lahir.
Putar Paksi Luar
Sementara kepala bayi lahir, bahu bayi masuk pintu atas panggul mengikuti jalan lahir. Kepala bayi yang telah berada diluar melakukan putar paksi luar yaitu menye­suaikan diri dengan punggung bayi, yang mulai terjadi dengan bahu depan (dekat tulang kemaluan ibu) sebagai titik putar­nya. Persalinan bahu dan badan bayi dibantu dengan menarik kepala curam ke bawah untuk melahirkan bahu depan, curam keatas untuk melahirkan bahu bela­kang, setelah kedua bahu lahir ketiak bayi dikait dengan telunjuk untuk melahirkan sisa badannya. Dengan demikian seluruh bayi lahir. Setelah mulut, hidung, dan jalan napas dibersihkan dan bayi menangis tali pusat dipotong, diikat dan bayi di­bungkus lalu diletakkan pada dada ibu, kemudian dibersihkan.
His Kala Uri (plasenta)
Setelah bayi lahir otor rahim memerlukan istirahat sekitar 10-15 menit dan his tim­bul untuk melahirkan plasenta (uri). Per­salinan plasenta pun perlu dibantu, se­hingga dapat diketahui kelengkapannya. Dengan lahirnya janin (bayi) terjadi pengerutan otot rahim, artinya setelah kontraksi otot rahim tidak kembali pada panjang semula, tetapi memendek, dan menyebabkan plasenta tidak dapat mengikuti perpendekan dan melepaskan diri. Plasenta yang telah lepas diperiksa kelengkapannya, sehingga tidak terdapat sisa plasenta yang menyebabkan perdarah­an berkepanjangan/berulang, infeksi sete­lah persalinan, atau mengalami degenerasi gangs atau polip. Bila diduga terdapat sisa plasenta dilakukan eksplorasi atau dilaku­kan kuretase.
His Kala Empat
Setelah plasenta lahir otot rahim terns berkontraksi (his) untuk dapat menutup pembuluh darah dari bekas inplancasi plasenta. Dengan persalinan terdapat penurunan hormon kehamilan yang menyebabkan pengecilan otot rahim se­hingga kembali pada besar dan bentuk semula setelah 42 hari (6 minggu atau satu bulan tujuh hari). Bila persalinan berjalan normal, diharapkan dapat melakukan mo­bilisasi segera sehingga peredaran darah kembali dan sisa darah yang terdapat dalam rahim dapat dikeluarkan. Mobilisa­si dini menguntungkan dan dapat mengurangi kemungkinan infeksi setelah persalinan.
Gambaran persalinan secara kilnis penting diketahui masyarakat sehingga ibu datang pada waktunya, untuk persiap, pertolongan. Bagi masyarakat awam, bila terjadi dan terdapat salah atau gejala tersebut sebaiknya datang ke rumah sakit, un­tuk mendapatkan pertolongan.

No comments:

Post a Comment